Wujud Terimakasih
Allah SWT Kepada Seseorang Senin, 23 Januari 2012
قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : أَنَّ رَجُلاً رَأَى كَلْباً يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَأَخذَ
الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حَتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ
صحيح البخاري
Sabda Rasulullah SAW: "Sungguh seorang pria melihat anjing menjilat
kotoran kering karena tidak tahan menahan haus dan tak menemukan air, maka
lelaki itu mencabut sepatu kulitnya dan mengambil air dari sumur dan memberinya
minum hingga puas, maka Allah berterimakasih padanya dan memasukannya ke surga"
(Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا
بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ
اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا
إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا
صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ
الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ
الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ
وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha
Lemah lembut kepada hamba-hambaNya terlebih kepada hamba yang memiliki sifat
lemah lembut kepada yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“ Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit (malaikat) akan
menyayangi kalian”
Sebagaimana pula hadits luhur yang telah kita baca, dimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pengajaran kepada kita dengan hadits
tersebut yang begitu singkat namun memiliki makna yang sangat dalam, dimana
kepedulian terhadap seekor hewan yang najis sekali pun seperti seekor anjing
yang sedang mendapatkan kesulitan karena kehausan, kemudian seseorang
menolongnya maka Allah subhanahu wata’ala menghadiahkan untuknya surga sebab
perbuatannya yang memberi minum seekor anjing yang kehausan. Padahal kita
mengetahui bahwa memasuki surga kita harus melewati berbagai macam cobaan dan
kesulitan, akan tetapi jiwa yang penuh dengan kasih sayang terhadap sesama
makhluk Allah maka Allah akan menyayanginya dan berterima kasih kepadanya atas
perbuatannya. Sebagaimana dalam hadits tersebut, dimana perbuatan baik seorang
lelaki itu terhadap anjing yang kehausan, dimana anjing tersebut tidak mampu
membalas kebaikannya maka Allah subhanahu wata’ala yang membalasnya dengan
memasukkannya ke dalam surga. Namun semakin hari dalam perputaran bumi ini
semakin sirna orang-orang yang memiliki rasa kasih sayang dan lemah lembut antar
sesama makhluk, padahal sifat mulia itulah yang justru menjadikan sebab turunnya
rahmat Allah ke muka bumi, namun semakin berlalunya waktu manusia semakin banyak
yang bersifat bengis dan tidak peduli kepada sesama manusia, terlebih lagi
terhadap seekor hewan. Namun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah
memberikan tuntunan kepada kita bahwa peduli kepada seekor hewan yang najis
sekalipun bisa memasukkan seseorang ke dalam surga, terlebih jika peduli kepada
sesama manusia yang baik, terlebih lagi jika peduli kepada sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dengan memperbanyak shalawat atau
memperbanyak mengajak orang lain untuk mengerjakan keluhuran seperti hadir di
majelis ta’lim, di majelis dzikir, mengingatkan orang lain untuk melakukan
shalat dan lainnya baik mengajaknya dengan ucapan langsung, telepon, atau pun
sms. Hal demikian merupakan kepedulian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang terlihat sepele, bahkan lebih sepele dari perbuatan seseorang yang
memberi minum seekor anjing yang disebutkan dalam hadits tersebut, yang kemudian
Allah memasukkannya ke dalam surga karena niatnya, yaitu karena kelembutan hati
dan kasih sayang yang ada dalam dirinya. Dan tiadalah hati yang lebih berlemah
lembut dari sanubari sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab
itu semakin mulia derajat seseorang, maka hatinya akan semakin berlemah lembut
dan semakin seseorang berlemah lembut dan berkasih sayang maka ia akan semakin
mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Hijrah telah memindahkan kita kepada
kehidupan, keadaan atau masa yang baru, demikianlah kehidupan manusia dari waktu
ke waktu terus berubah, dimana semakin banyak seseorang mendapatkan kenikmatan,
barangkali semakin banyak pula perbuatan dosa yang dilakukan wal’iyadzubillah,
sehingga semakin banyak dan berat pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah
subhanahu wata’ala. Maka sungguh beruntung orang yang setiap waktu semakin
mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita mengetahui dimana semakin hari
semakin banyak musibah yang terjadi di bumi, disebabkan karena semakin banyak
yang berbuat dosa, akan tetapi jika semakin hari orang yang berbuat dosa semakin
berkurang maka musibah pun akan semakin berkurang di muka bumi. Sebagaimana yang
terjadi di tahun-tahun yang lalu ketika hampir seluruh gunung berapi yang ada di
pulau Jawa berada pada status “Siaga 1” atau status “Awas”, namun ketika itu
masuk bulan Rabi’ Al Awwal dimana seluruh penduduk di pulau Jawa meramaikan
dengan acara Maulid Nabi Muhammmad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak
sampai kabar tentang meletusnya gunung-gunung itu. Karena alam semesta tunduk
sebab perbuatan manusia yang mengikuti sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam. Sebagaimana manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, dan semakin
mereka berbuat baik dan mengikuti sang nabi maka alam pun akan semakin berbuat
baik karena hal itu adalah perintah Allah subhanahu wata’ala kepada alam.
Sebaliknya jika manusia selalu berbuat buruk maka alam akan membalas perbuatan
buruk itu dengan bencana atau musibah, dan disamping itu balasan atas perbuatan
mereka akan tetap tersisa untuk kelak di akhirat. Bumi dan semesta alam yang
milik Allah itu ditinggalkan untuk kita, namun kita tidak mengetahui masih
tersisa berapa waktu kita dapat menginjak bumi, berapa lama lagi Allah
meminjamkan udara untuk kita bernafas, tersisa berapa lama Allah meminjamkan
tubuh ini kepada kita, kesemua itu tercantum pada keputusanNya Yang Maha Luhur,
berapa lama kita akan hidup di dunia dan bagaimana kehidupan kita di dunia, maka
masa depan kita adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan masa lalu kita kembali
kepada Allah, dimana dosa-dosa yang telah lewat Allah Maha Mampu menghapusnya
dalam waktu sekejap bahkan bisa berubah menjadi pahala, begitu juga sebaliknya
bisa jadi satu hal makruh pun dapat menceburkan seseorang ke dalam api neraka,
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Shahih
Al Bukhari :
مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ
“Barangsiapa yang dihisab berarti ia disiksa”
Kemudian sayyidah Aisyah RA berkata, bertanya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam :
أَوَلَيْسَ يَقُوْلُ الله تعالى
: فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
(الإنشقاق: 7)
“Bukankah Allah Ta'ala berfirman: "Kelak dia akan dihisab dengan hisab
yang ringan"
Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّمَا ذَلِكَ الْعَرْضُ
وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ
“Hal itu adalah al ‘aradh (pemaparan amal), namun barangsiapa yang
dimunaqasyah (didebat) hisabnya, maka ia akan binasa”
Maksud dari hadits tersebut adalah jika Allah subhanahu wata’ala mendesak
atau mempertanyakan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepada hambaNya maka ia
akan celaka, seperti kenikmatan melihat dari mana ia mendapatkannya, dan berapa
banyak sel yang ada pada mata yang berkhidmat atau bekerja untuknya sehingga ia
mampu melihat, namun kebanyakan nikmat melihat itu digunakan untuk berbuat dosa
atau melanggar perintah Allah subhanahu wata’ala, maka jika hal seperti ini
terjadi pada seorang hamba maka habislah semua amal baik seorang hamba karena
pertanyaan tersebut, belum lagi tuntutan atau pertanyaan atas kenikmatan dan
perbuatan yang lainnya, meskipun hal itu adalah perbuatan-perbuatan baik namun
di dalamnya terdapat sifat tercela seperti sikap sombong, iri, riya’ dan
lainnya. Maka dalam hal ini Al Imam As Syafi’i RA berkata : “ Aku takut
dan khawatir terhadap amal-amalku yang terbaik, bagaimana aku tidak khawatir dan
takut akan amal-amalku yang buruk”. Salah seorang ulama’ berkata dalam
qasidahnya:
ياَرَبِّ مَا مَعَنَا عَمَلٌ
وَكَسْبُنَا كُلُّهُ زَلَلٌ لَكِنْ لَنَا فِيْكَ أَمَلٌ تُحْيِيْ اْلعِظَامَ
الرَّامَّةَ
“ Ya Allah kami tidak memiliki amal baik (dibandingkan kenikmatan yang
Engkau berikan) bahkan semua usaha dan perbuatan kami , akan tetapi kami
memiliki harapan (mendapatkan kasih sayangMu), Dimana Engkau Maha Mampu
menghidupkan tulang-tulang yang telah hancur lebur”.
Karena hakikatnya semua amal perbuatan baik manusia adalah dari hidayah dan
taufik Allah subhanahu wata’ala, dimana seorang hamba hanyalah senantiasa
berharap kasih sayang Allah subhanahu wata’ala. Selanjutnya kita bermunajat
semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan kita sepanjang waktu dan zaman,
semakin seseorang bepindah dari kehidupan kepada kehidupan yang lain dalam
keadaan yang semakin baik maka semakin mulia lah kehidupannya, semakin dekat
kepada Allah subhanahu wata’ala sehingga semakin disucikan dan semakin banyak
dilimpahi rahmat oleh Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala
menjaga kita, ayah ibu kita, keluarga kita, wilayah kita, negara kita, bangsa
kita dan seluruh ummat Islam di penjuru barat dan timur dari musibah dan bahaya,
dengan keagungan namaNya Yaa Rahmaan Yaa Rahiim…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ
الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ
اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ
اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ
اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ
شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
|